Jumat, 02 Juli 2010

Di Dalam

Yang terbelenggu didalam,
perkataan yang tak pernah kuucapkan,
perasaan yang kusembunyikan,
kalimat yang tak pernah kubaca.

Kau dapat melihatnya dimataku,
membacanya diwajahku,
didalam terperangkap dusta,
masa lalu yang tak dapat kutukar.

Dengan kenangan yang menggelantung,
yang tampaknya tak mau enyah,
mengapa aku tak bisa lebih bahagia ?
hari ini adalah hari baru

Kemarin sudah berlalu,
meskipun rasa sakitnya belum,
tak ada yang abadi
aku harus mensyukuri yang kumiliki.

Janganlah cintaku kau sia-siakan,
karena cintaku akan segera hilang,
semua yang kau dambakan,
cinta yang kau kira telah kau dapatkan.

Rasa sakit yang kau rasakan,
tak akan hilang dalam semalam,
tapi entah bagaimana,
entah kapan,
segala sesuatunya akan membaik

Tak lagi mengharapkan masa lalu,
ia bukanlah padananku,
kasih kami tak bertahan,
jadi aku harus merelakannya.

Usang lagi lusuh

siangku menyesakan keterpurukanku..
akan penantian yang tak kunjung datang..
cukup sudah aku memilih, apa yang kuhasilkan..
sepungguk sesal yang kudapat..
inilah kesalahan yang kutanam..
kembali berbuah sesal

kemarin ia datang,bercerita tentang cita, cinta dan asa..
sekarang ia pergi, meninggalkan karat dihati..
kunang-kunang kemana kamu ? ..
aku tak bisa berkata-kata lagi..
sudah..
cukup..
maaf tak pernah salah ! ..
sudah..
aku muak..
seonggok puisi usang dari penantianku..
hingar bingar tak peduli..
siluet puisiku lusuh termakan usia..
harapan..
terserah...
aku haturkan yang jauh disana

air mata langitpun terhenti seakan kemarahannya usai sudah..
kilatan petirpun mengiringi kedatangan dan kepergiannya..
seakan dia tak'kan pernah kembali..
akankah sang surya akan kembali bersinar..
tanda kehidupan kan terang

hari ini..
aku titipkan sebuah cerita untuk anak cucuku kelak..
tiada akhir dimana aku akan berhenti dipersimpangan jalan..
ketika siang berubah malam, akan pulang dimana suatu masa..
cerita usangku untukmu anak cucuku..
agar kelak kau tak mengalami seperti itu

Angin

Angin...
tidakkah kau tahu, aku mengagumimu seperti halnya kau mengagumi padananmu
aku hanya ingin kau tahu itu
aku tahu...
aku sadar...
aku hanyalah sebutir pasir pantai, yang tak'kan pernah tahu

Angin...
sebegitu hebatkah awanmu yang s'lalu kau ikuti
awanmu yang menjulang tinggi di angkasa
awan yang s'lalu memberikan keteduhan bagi yang berteduh
awan yang s'lalu memberikan keindahan bagi yang menatapnya
sedang aku hanya sebutir pasir yang dapat kau hempaskan sesukamu
hanya sebutir pasir yang tak'kan pernah mencapai angkasa
dan hanya ditakdirkan di satu sisi bumi saja

Angin
berapa kali ku berucap, aku mengagumimu
berada disekitarmu saja itu sudah cukup
sebutir pasir yang terlampau mengagumimu
aku tak ingin angin haluan, hingga menantang para nelayan tak tau arah pulang
awan comulunimbus yang mendatangkan hujan badai, hingga pasir-pasir pantai berserakan
aku inginkan angin buritan, hingga mengantar mereka kembali pulang
awan cirrus, yang mendatangkan kecerahan

Akupun sadar...berapa kali ku berucap lagi
aku hanya sebutir pasir dipantai
yang hanya merindukan angin mengenalku, menyapaku dan tersenyum...
itu saja sudah cukup bagiku yang hanya sebutir pasir

Dan aku ingin bertanya...
apakah sama kau angin dengan udara
aku belum mengerti itu...
dan aku hanya sebutir pasir yang tak'kan pernah mengerti angin dengan udara, apakah sama ?

Di satu sisiku terdiam sudah
aku tak mau lebih
sudahlah...
harapan sebutir pasir hanyalah temani pantai,
temani angin sepoi-sepoi,
temani awan yang menghujam di angkasa,
temani kumbang dan pepohonan,
ataupun temani seseorang yang dirundung malam (semoga itu...)
seseorang yang ingin membaca dengan ketidaktahuannya

Di satu sisi kau hanyalah angin
Back To Top